1900 to 2200: WIB
2000 to 2200: Singapura

1900-2100: Waktu Indonesia Barat
2000-2200: Waktu Singapura
1200-1400: UTC
6120KHz (49 MB)
7235KHz (41 MB)
AsiaSat 3S
Posisi 105.5 Derajat
Frekuensi 3706 MHz

Kritik, Komentar atau Saran Anda
>> opini anda...

 


Apa Hubungan Gas Rumah Kaca dan Peran Kita?

May 13, 2008

Apa hubungannya antara gas rumah kaca dan peran kita sebagai individual? Apa pula sebenarnya peran gas rumah kaca terhadap kekurangan pangan dan runtutan bencana lainnya yang kini sering terjadi?

++++++++++++++++++++

Saudara, sudah sering kita mendengar istilah gas rumah kaca. Istilah ini, kerap dikaitkan dengan pemanasan global. Apa sebenarnya kaitan antara Gas Rumah kaca dan pemanasan global? Menurut definisi yang ditawarkan oleh Wikipedia berbahasa Indonesia (id.wikipedia.org),

“Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca[3] (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.”


Nah saudara, dampak yang kini kita rasakan dari pemanasan global, adalah runtutan kesusahan yang terjadi. Rekan Fadhilla Kamarrul dari RSI bahasa Melayu berbicara dengan Sonki Prasetya, Climate & Energy Campaigner, Green Peace South East Asia.

“Kalau kita tahu tentang isu perubahan iklim dan pemanasan global, kita akan mungkin di televise, radio, newspaper kita sering dengar perubahan iklim dan pemanasan global akibat gas rumah kaca. Akibat gas rumah kaca yang meningkat maka bumi menjadi lebih panas. Itu mengakibatkan jumlah penyakit, terutama di tropic seperti malaria, dengue, lebih meningkat. Selain itu timbul kesusahan pangan, bencana seperti banjir karena tingginya curah hujan yang intensitasnya tidak menentu, dan beberapa bencana lain.”

Perubahan iklim, memang bukan satu-satunya penyebab, tapi ia menambah intensitas dari situasi yang sudah terjadi, sehingga menimbulkan dampak buruk yang kini terasa. Beragam penyakit tropis misalnya, semakin meningkat di kawasan ini.

“Kalau di Indonesia sendiri saya pernah baca data Departemen Kesehatan, jumlah penyakit tropic seperti malaria dan dengue, semakin meningkat. Dari 2000 sampai sekarang, terjadi peningkatan yang tajam atas malaria dan demam berdarah di Indonesia. Tidak hanya dialami oleh Filipina, di Indonesia juga kita mengalami.”

Jadi, dampak buruk tidak hanya dirasakan di bagian dunia tertentu, tapi merata. Terlepas dari siapa yang merusakkan lingkungan paling banyak, dampaknya terasa di mana-mana. Maka itu koordinasi dan kerelaan dari semua pihak, termasuk kita sebagai anggota masyarakat dan individu, sangatlah diperlukan. Sonki Prasetya menyebutkan ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Yang jelas perlu system dan koordinasi bersama. Tidak hanya dari 1 pihak, dari policy maker, masyarkaat dan industri, untuk membuat program jangka panjang, menengah dan pendek, untuk memasukkan unsure climate change dalam kegiatan. Semuanya harus partisipasi, dan antar Negara buat prioritas kalau perubahan iklim adalah hal yang urgent. Individual perlu perubahan perilaku dalam kegiatan sehari-hari, seperti melakukan hal-hal yang lebih berorientasi lingkungan, seperti penggunaan energi yang lebih hemat, atau pengelolaan sampah, dan apapun kegiatan kita berorientasi kepada masyarakat banyak.”

Intropeksi pribadi, Koordinasi, dan lakukan sekarang. Itulah kunci yang digarisbawahi oleh Sonki Prasetya dari GreenPeace Asia Tenggara, yang berbasis di Jakarta. Namun ia mengakui, tidak mudah melakukan hal ini, karena bahkan pengetahuan mengenai kesadaran lingkungan, kurang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau saya mencoba melihat terutama di Indonesia, masih banyak masyarakat yang belum tahu. Jadi sosialisasi perlu di Negara saya, supaya orang mengerti apa itu climate change, what happen now, kenapa sulit diprediksi, banyak orang belum tahu. Jadi sosialisasi penting untuk itu. Nanti aksi, perlu dilakukan bersama untuk ke depan.”

Satu lagi yang ditekankannya adalah, partisipasi setiap individu ada maknanya. Ia menolak pandangan, selama ada orang lain yang telah melakukannya, maka kita tidak perlu turut serta. Pasalnya, pemanasan global menyangkut kepentingan kita dan keturunan kita di masa mendatang. Selain itu, tanpa peran semua pihak, sangat sulit untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

“Mungkin kita harus rubah paradigma, kalau orang lain sudah melakukan kita tidak perlu melakukan. Yang penting, perubahan tingkah laku yang harus dilakukan masing-masing. Intinya adalah kepedulian terhadap orang lain itu penting, karena apapun yang kita lakukan kalau kita tidak perduli, itu tidak hanya membawa dampak terhadap orang lain, tapi juga terhadap kita sendiri. Jadi perlu kesadaran dari semua sector untuk sama-sama berubah. Itu intinya sebenarnya.”

Sonky Prasetya, Climate & Energy Campaigner dari Lembaga Swadaya Masyarakat Green Peace South East Asia, yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Saudara, lakukan sekarang, dimulai dari diri kita sendiri. Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk ramah lingkungan hari ini? [aji : aji @ mediacorp.com.sg]

  Page(s): 1

Informasi sebelumnya dapat juga anda cari di halaman arsip.

 


Informasi sebelumnya dapat juga anda cari di halaman arsip.

Fokus Asia
Pertemuan Negara Negara G-8 Bahas Krisis Dunia
Pak Bali
Memanfaatkan Limbah Stereofoam Menjadi Batako
Bisnis Global
Kiat Iskandar Mendunia
Artha Kelola
Menentukan Harga Jasa Kita
Inspirasi
Yunisa Gunawan : Penulis Novel Sakura Bersemi Di Yokohama
Wajah
Widya Rahmanto : Semangat Kekeluargaan di Singapura
Bisnis Online
Pentingnya Nama Yang Catchy
Mozaik
The Spirit Of Indonesia
Wacana Indonesia
Parpol Tak Populer Lagi?
Blog Bicara
Dagdigdug; Layanan Blog-Hosting Asli Indonesia
Profil Bisnis
Maju Di Kala Krisis
At Singapore
Menjadi Maid di Singapura

Media Nusantara
Warna-Warni Pilkada di Indonesia
Lidah Serantau
Hubungan China-Jepang, OREC dan Bencana di Myanmar

UU Persaingan Usaha di Singapura

 

 



Kembali ke Atas